Di KTP Ibu Rumah Tangga Faktanya Tulang Punggung Keluarga
Doc.Oxegen
Bicara pengarusutamaan gender (PUG),
adalah bicara kebijakan dan program dalam upaya memperkecil kesenjangan gender
itu sendiri yang terjadi diberbagai sektor kehidupan. Bagaimana sebuah
kebijakan dan program pembangunan yang dikembangkan saat ini dan akan datang.
Bagaimana hal tersebut dapat menintegrasikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan
permasalahan perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan
dan evaluasi pada seluruh kebijakan dan program pembangunan nasional.
Sebagaimana kita pahami bahwa
gender merupakan konstruksi sosial dan masyarakat tentang peran laki-laki dan
perempuan. Gender acapkali dikaitkan dengan pembagian peran kedudukan dan tugas
antara laki-laki dan perempuan menurut norma, adat, kepercayaan, tradisi
masyarakat. Ketika konstruksi sosial tersebut telah dibangun dan hidup sehingga
akan menjadi kodrat yang sulit dirubah. Maka terciptalah pembagian peran
laki-laki dan perempuan yang bersifat operasional. Laki-laki berperan diwilayah
publik, dianggap produktif, maskulin dan pencari nafkah utama.
Sementara perempuan diposisikan
diwilayah domestik dengan peran reproduktif, feminim dan pencari nafkah
tambahan. Terbentuknya stereotipe peran gender telah merasuki pikiran kebanyakan
kita. Perempuan dianggap lemah, tidak kompeten, tergantung, irasional,
emosional, dan penakut. Sebaliknya laki-laki dianggap kuat, mandiri, rasional,
logis, dan berani.
Perempuan bersuami sering
mencantumkan pekerjaannya di KTP sebagai ibu rumah tangga (IRT), dan suaminya meskipun
menganggur tetap mencantumkan – wirausaha, sebagai tulang punggung keluarga.
Seperti halnya ibu-ibu yang berkumpul
di bawah pohon ini. Teduhnya pohon telah mereka sulap menjadi pasar dadakan. Pasar
dadakan yang ada di kecamatan pedalaman Kalimantan ini, sekilas seperti tempat
kumpul-kumpul, bercengkrama saja, menjaga anaknya sambil menunggu suami pulang
kerja. Tapi siapa yang menduga mereka sedang bekerja. Menjual ikan hasil
tangkapan atau membeli dari pasar induk. Ada juga yang menawarkan jasa
membersihkan ikan yang upahnya dihitung perkilogram atau pertakar.
Selain ikan, ada sayur mayur hasil
kebun dan tanaman pekarangan juga digelar disitu. Beberapa diantaranya menawarkan
telur itik Alabio hasil ternak. Tidak hanya itu sambil menjaga jualannya tangan
trampil mereka menganyam bakul untuk dijual di pasar kerajinan setiap
minggunya.
Hasil usahanya untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari, uang jajan anak sekolah dan membelikan rokok sang suami.
Faktanya ibu rumah tangga ini telah menjalani peran sebagai tulang punggung
keluarga bahkan kepala keluarga.
Kesenjangan gender tersebut hanya
secuil dari gambaran sesungguhnya. Apalagi bila kita lihat dan masuk ke
berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Sebutlah bidang pendidikan masih
tampak jelas perbedaan kesempatan antara laki-laki dan perempuan meraih
pendidikan tinggi. Bidang politik ketimpangan tersebut juga masih terlihat pada
anggota legislative dan jabatan publik. PNS yang menduduki jabatan eselon III hingga eselon I cuma berapa persen.
Pengarusutamaan gender merupakan strategi yang dilakukan
secara rasional dan sistematis dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender dalam
sejumlah aspek kehidupan manusia. Baik dalam rumah tangga, masyarakat bahkan
negara. Pengarusutamaan gender terlahir dari kebijakan dan program yang
memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan
laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dn evaluasi dari
seluruh kebijakan dan program diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan.
Pengarusutamaan gender bertujuan untuk memastikan apakah
perempuan dan laki-laki memperoleh akses yang sama sebagai sumberdaya
pembanguan, berpartisipasin yang dalam proses pembanguan termasuk pengambilan
keputusan, mempunyai control yang sama atas sumberdaya pembangunan serta
memperoleh manfaat yang sama dari hasil pembanguan. (WTA)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar