Minggu, 27 November 2016

Berguru Islam Ramah kepada Sikap Gus Mus





KH.Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus, seorang ulama panutan di negeri ini. Beliau adalah Kiayi Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang yang juga Rais Syuriah PBNU. Namun bukan karena itu belakangan beliau ramai dibicarakan. Melainkan sikap beliau menanggapi hinaan lewat cuitan “Bid’ah ndasmu!”
Cuitan yang datang dari karyawan kontrak di PT Adhi Karya, Pandu Wijaya, membuat sang Komisaris Utama Fadjroel Rachman, menyampaikan permohonan maaf.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda,’ tulis Gus Mus sambil menyertakan emoticon senyum. Bahkan Gus Mus memohon kepada Fadjroel agar Pandu tidak dipecat. Karena saat itu memang banyak netizen yang menyerukan agar Pandu diberhentikan dari pekerjaannya.
Gus Mus hanya berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga. Beliau meminta agar orang tidak mudah emosi dan marah jika dihina atau direndahkan oleh orang lain.
“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu, jangan buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan,” ucapnya.
Sikap beliau yang arif, bahasa yang lembut, lapang dada, pemaaf, dan bijaksana dinilai mencerminkan Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatan lil’alamin. Islam yang ramah bukan marah.

 Beragama itu mengikat tapi tidak menjerat
Beragama itu membalut tapi tidak membelit
Beragama itu menghangatkan tapi tidak membakar
Aturannya tegas tapi tidak keras,
Tindakannya ramah bukan marah



Islam adalah agama beradab yang membawa rahmat bagi sekalian alam. Rasulullah SAW, Sang Pembawa risalah diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sejarah telah penuh dengan catatan konflik. Beratus-ratus tahun tiada henti-hentinya pertikaian antar agama. Aliran yang satu dengan aliran yang lain saling menyalahkan. Bila saja keangkuhan diri dan merasa paling benar sendiri dapat dihentikan. Sehingga kita tidak tertipu oleh kepentingan nafsu.

Menjadi tugas kita melanjutkan perjuangan Rasulullah, yang telah membawa Islam sebagai agama peradaban. Menegakkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam, bukan agama yang menebar teror dan kebencian dalam kehidupan. Islam memang agama yang lembut walau tidak lembek. Lembut tapi tegas. Tegas tapi tidak keras. Agama yang membawa misi yang jelas dan tegas.

Islam kita yakini sebagai agama yang sempurna. Agama dengan segala sistem peradaban yang dibawanya ke muka bumi, dan telah teruji memiliki daya adaptasi yang sangat sempurna. Islam turun untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Untuk seluruh umat manusia apa pun suku, agama, ras, bahasa, warna kulit, warna mata, rambut, strata, kedudukan, darah merah atau darah biru, tuan dan hamba dan apapun dengan segala perbedaannya.

Sistem ini telah berhasil berkembang lintas realitas sosial dan kemanusiaan dengan naluri berketuhanan sebagai  fitrahnya.

Islam adalah Agama yang lurus dan benar, itu berarti agama ini dalam praktiknya tidak akan menimbulkan masalah dalam hidup dan kehidupan. Agama yang berjamaah dan bersatu. Persatuan akan terpelihara jika anggotanya tidak saling menyalahkan. Tidak merasa benar sendiri. Persatuan rentan akan perpecahan oleh sikap dan pandangan sempit pengikutnya.

Pandangan dan sikap ketidakhati-hatian yang melahirkan praktik pengkafiran, pemusyrikan, pembid’ahan, upaya menanamkan keraguan, menebar kebencian dan ketakutan antar sesama umat.

Islam menghendaki pemeluknya berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Islam tidak menghendaki pemeluknya berbuat kerusakan di muka bumi.
           
Islam agama yang mengajarkan kedamaian, cinta-kasih bukan kebencian. Agama yang tidak hanya membawa kebaikan bagi umatnya tetapi juga bagi umat yang lain. Agama yang ramah bukan pemarah. Ini yang banyak dirindukan.


Hari ini kita boleh berbangga. Di hari guru ini kita menemukan sosok guru yang berhasil memberi teladan tentang bagaimana Islam ramah itu dipraktikkan.  Islam ramah yang menjadi perilaku pemeluknya dalam kehidupan. Semoga kita dapat berguru Islam ramah pada sikap Gus Mus. Semoga! [wta]
Berguru Islam Ramah kepada Sikap Gus Mus









KH.Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus, seorang ulama panutan di negeri ini. Beliau adalah Kyai Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang yang juga Rais Syuriah PBNU. Namun bukan karena itu belakangan beliau ramai dibicarakan. Melainkan sikap beliau menanggapi hinaan lewat cuitan “Bid’ah ndasmu!”

Cuitan yang datang dari karyawan kontrak di PT Adhi Karya, Pandu Wijaya, membuat sang Komisaris Utama Fadjroel Rachman, menyampaikan permohonan maaf.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda,’ tulis Gus Mus sambil menyertakan emoticon senyum. Bahkan Gus Mus memohon kepada Fadjroel agar Pandu tidak dipecat. Karena saat itu memang banyak netizen yang menyerukan agar Pandu diberhentikan dari pekerjaannya.

"Janganlah, Dia sudah menyesal dan meminta maaf. Al-Musamih karim ...."

Gus Mus hanya berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga. Beliau meminta agar orang tidak mudah emosi dan marah jika dihina atau direndahkan oleh orang lain.

“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu, jangan buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan,” ucapnya.


Sikap beliau yang arif, bahasa yang lembut, lapang dada, pemaaf, dan bijaksana dinilai mencerminkan Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatan lil’alamin. Islam yang ramah bukan marah.






Islam adalah agama beradab yang membawa rahmat bagi sekalian alam. Rasulullah SAW, Sang Pembawa risalah diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sejarah telah penuh dengan catatan konflik. Beratus-ratus tahun tiada henti-hentinya pertikaian antar agama. Aliran yang satu dengan aliran yang lain saling menyalahkan. Bila saja keangkuhan diri dan merasa paling benar sendiri dapat dihentikan. Sehingga kita tidak tertipu oleh kepentingan nafsu.

Menjadi tugas kita melanjutkan perjuangan Rasulullah, yang telah membawa Islam sebagai agama peradaban. Menegakkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam, bukan agama yang menebar teror dan kebencian dalam kehidupan. Islam memang agama yang lembut walau tidak lembek. Lembut tapi tegas. Tegas tapi tidak keras. Agama yang membawa misi yang jelas dan tegas.

Islam kita yakini sebagai agama yang sempurna. Agama dengan segala sistem peradaban yang dibawanya ke muka bumi, dan telah teruji memiliki daya adaptasi yang sangat sempurna. Islam turun untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Untuk seluruh umat manusia apa pun suku, agama, ras, bahasa, warna kulit, warna mata, rambut, strata, kedudukan, darah merah atau darah biru, tuan dan hamba dan apapun dengan segala perbedaannya.

Sistem ini telah berhasil berkembang lintas realitas sosial dan kemanusiaan dengan naluri berketuhanan sebagai  fitrahnya.

Islam adalah Agama yang lurus dan benar, itu berarti agama ini dalam praktiknya tidak akan menimbulkan masalah dalam hidup dan kehidupan. Agama yang berjamaah dan bersatu. Persatuan akan terpelihara jika anggotanya tidak saling menyalahkan. Tidak merasa benar sendiri. Persatuan rentan akan perpecahan oleh sikap dan pandangan sempit pengikutnya.

Pandangan dan sikap ketidakhati-hatian yang melahirkan praktik pengkafiran, pemusyrikan, pembid’ahan, upaya menanamkan keraguan, menebar kebencian dan ketakutan antar sesama umat.

Islam menghendaki pemeluknya berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Islam tidak menghendaki pemeluknya berbuat kerusakan di muka bumi.
           
Islam agama yang mengajarkan kedamaian, cinta-kasih bukan kebencian. Agama yang tidak hanya membawa kebaikan bagi umatnya tetapi juga bagi umat yang lain. Agama yang ramah bukan pemarah. Ini yang banyak dirindukan.


Hari ini kita boleh berbangga. Di hari guru ini kita menemukan sosok guru yang berhasil memberi teladan tentang bagaimana Islam ramah itu dipraktikkan.  Islam ramah yang menjadi perilaku pemeluknya dalam kehidupan. Semoga kita dapat berguru Islam ramah pada sikap Gus Mus. Semoga! [wta]