Berguru Islam
Ramah kepada Sikap Gus Mus
KH.Ahmad
Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus, seorang ulama panutan di negeri ini.
Beliau adalah Kiayi Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang yang
juga Rais Syuriah PBNU. Namun bukan karena itu belakangan beliau ramai
dibicarakan. Melainkan sikap beliau menanggapi hinaan lewat cuitan “Bid’ah
ndasmu!”
Cuitan yang
datang dari karyawan kontrak di PT Adhi Karya, Pandu Wijaya, membuat sang
Komisaris Utama Fadjroel Rachman, menyampaikan permohonan maaf.
“Tidak ada
yang perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan
‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda,’ tulis Gus Mus sambil
menyertakan emoticon senyum. Bahkan Gus Mus memohon kepada Fadjroel agar Pandu
tidak dipecat. Karena saat itu memang banyak netizen yang menyerukan agar Pandu
diberhentikan dari pekerjaannya.
Gus Mus
hanya berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga. Beliau meminta agar orang
tidak mudah emosi dan marah jika dihina atau direndahkan oleh orang lain.
“Kalau ada
yang menghina atau merendahkanmu, jangan buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu
dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa
bukan kita yang dijadikan cobaan,” ucapnya.
Sikap beliau
yang arif, bahasa yang lembut, lapang dada, pemaaf, dan bijaksana dinilai
mencerminkan Islam yang sesungguhnya. Islam yang rahmatan lil’alamin. Islam
yang ramah bukan marah.
|
|
Islam adalah agama
beradab yang membawa rahmat bagi sekalian alam. Rasulullah SAW, Sang Pembawa
risalah diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Sejarah
telah penuh dengan catatan konflik. Beratus-ratus tahun tiada
henti-hentinya pertikaian antar agama. Aliran yang satu dengan aliran yang lain
saling menyalahkan. Bila saja keangkuhan diri dan merasa paling benar sendiri
dapat dihentikan. Sehingga kita tidak tertipu oleh kepentingan nafsu.
Menjadi
tugas kita melanjutkan perjuangan Rasulullah, yang telah membawa Islam sebagai
agama peradaban. Menegakkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi
semesta alam, bukan agama yang menebar teror dan kebencian dalam kehidupan.
Islam memang agama yang lembut walau tidak lembek. Lembut tapi tegas. Tegas
tapi tidak keras. Agama yang membawa misi yang jelas dan tegas.
Islam
kita yakini sebagai agama yang sempurna. Agama dengan segala sistem peradaban
yang dibawanya ke muka bumi, dan telah teruji memiliki daya adaptasi yang
sangat sempurna. Islam turun untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Untuk
seluruh umat manusia apa pun suku, agama, ras, bahasa, warna kulit, warna mata,
rambut, strata, kedudukan, darah merah atau darah biru, tuan dan hamba dan
apapun dengan segala perbedaannya.
Sistem ini telah berhasil berkembang lintas realitas sosial
dan kemanusiaan dengan naluri berketuhanan sebagai fitrahnya.
Islam
adalah Agama yang lurus dan benar, itu berarti agama ini dalam praktiknya tidak
akan menimbulkan masalah dalam hidup dan kehidupan. Agama yang berjamaah dan
bersatu. Persatuan akan terpelihara jika anggotanya tidak saling menyalahkan.
Tidak merasa benar sendiri. Persatuan rentan akan perpecahan oleh sikap dan
pandangan sempit pengikutnya.
Pandangan dan sikap ketidakhati-hatian yang melahirkan
praktik pengkafiran, pemusyrikan, pembid’ahan, upaya menanamkan keraguan,
menebar kebencian dan ketakutan antar sesama umat.
Islam
menghendaki pemeluknya berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadanya. Islam tidak menghendaki pemeluknya berbuat kerusakan di
muka bumi.
Islam
agama yang mengajarkan kedamaian, cinta-kasih bukan kebencian. Agama yang tidak
hanya membawa kebaikan bagi umatnya tetapi juga bagi umat yang lain. Agama yang
ramah bukan pemarah. Ini yang banyak dirindukan.
Hari
ini kita boleh berbangga. Di hari guru ini kita menemukan sosok guru yang
berhasil memberi teladan tentang bagaimana Islam ramah itu dipraktikkan. Islam ramah yang menjadi perilaku pemeluknya
dalam kehidupan. Semoga kita dapat berguru Islam ramah pada sikap Gus Mus.
Semoga! [wta]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar